Persona

Mengenang Maestro Topeng I Made Regug, Tak Dibatasi Usia

 Senin, 02 Agustus 2021, 11:15 WITA

beritabali/ist/I Made Regug semasa hidup

IKUTI BERITAGIANYAR.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Beritagianyar.com, Ubud. 

Made Regug terbilang masih aktif berkarya saat usia renta. Ditemui di kediamannya di Banjar/Desa Pakraman Lantangidung, Desa Dinas Batuan Kecamatan Sukawati Gianyar, Tahun 2017 lalu, Made Regug penerima penghargaan Tokoh Pelestari Topeng tahun 2015 dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar ini mengatakan masih sering diminta untuk membuat topeng yang dipergunakan untuk Sesuhunan maupun Topeng untuk pementasan. 

Membuat Topeng sudah dijadikan tumpuan hidup. Dengan menari Topeng, Made Regug bisa menghidupi keluarganya. Bahkan hingga membiayai sekolah cucu-cucunya. Made Regug membesarkan anak dan cucunya dengan lungsuran dari banten yang diberikan kepadanya saat pentas Nopeng. 

Maan nunas santun megarang, misi baas abedik to kumpulin anggo mani puane ngaenang cucu-cucu bubuh,” kenangnya.

Hanya saja, penyakit Kencing Manis dan Asam Urat mulai membatasi aktivitasnya. Meski demikian, ia tetap merasa bersyukur masih bisa bekerja meskipun dalam kondisi sakit. 

“Sakit tua, sudah biasa. Ulian ngangsang ulian demen,” ujarnya. 

Ayah 6 anak ini memiliki beban yang cukup berat sepeninggal dua anak laki-lakinya. Kini Made Regug hanya tinggal bersama dua menantu dengan 6 cucu. Sementara anak ketiganya I Nyoman Setiawan yang meneruskan kesenian topeng tinggal terpisah namun masih satu banjar.

Dikisahkan Made Regug, sejak tahun 1974 sudah mulai menari Topeng Pajegan bersama seniman Topeng lawas seperti Made Kakul. Seluruh Bali sudah pernah ia sambangi termasuk 4 kali ke Nusa Penida. Transportasi yang jaman dahulu tak secanggih saat ini, mengharuskan Made Regug menaiki perahu. Perjalanan ditempuhnya selama berjam-jam untuk tiba di Nusa Penida. “Nak adeng-adeng to, mekelo di perahu,” terangnya. 

Selain itu, Made Regug juga berkesempatan pentas Topeng di Surabaya, Lombok dan Jepang atas permintaan pemerintah. “Saya lupa tahun berapa, yang jelas acara festival topeng. Kalau yang di Jepang sekitar tahun 2000an,” jelasnya.

Diungkapkan Made Regug, pentas Topeng pada jaman dahulu tak seperti saat ini yang dijemput memakai mobil. Melainkan, ia sendiri naik sepeda untuk tiba di tempat tujuan. Bahkan berangkatnya bisa sehari sebelum pentas. 

“Yen ke Klungkung, jam 4 sore sampun berangkat. Kal pentas buin manine,” terangnya. 

Tapi hal tersebut tidak membuatnya berkecil hati, sebab penghargaan terhadap seniman topeng pada waktu itu sangat tinggi.


Halaman :